WWW.PATROLISULSEL.COM, Makassar – Fenomena anak jalanan yang mengatasnamakan diri sebagai bagian dari subkultur punk kembali menjadi sorotan publik. Salah satu narasi yang kerap digaungkan adalah slogan “jalanan adalah sekolah”. Namun, makna filosofi tersebut dinilai kerap disalahartikan.
Secara substansi, “jalanan adalah sekolah” bukanlah pembenaran untuk hidup tanpa arah, apalagi menjadikan kemalasan sebagai gaya hidup. Jalanan disebut sebagai sekolah karena apa yang dilihat, dialami, dan ditemui setiap hari dapat menjadi pelajaran hidup. Lingkungan sekitar adalah ruang belajar, dan setiap orang yang ditemui—siapa pun latar belakangnya—dapat menjadi guru, selama nilai positif yang diambil dan sisi negatif ditinggalkan.
Ironisnya, realitas di lapangan justru menunjukkan paradoks. Tidak sedikit anak jalanan yang berkedok punk terlihat di persimpangan lampu merah, lantang menyuarakan perlawanan terhadap koruptor dan ketidakadilan. Namun di sisi lain, mereka menolak pendidikan formal, enggan bekerja, dan menjadikan kemalasan sebagai pilihan hidup.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin seseorang mengklaim ingin melawan korupsi—kejahatan struktural yang membutuhkan integritas, disiplin, dan kecerdasan—sementara untuk melawan rasa malas dalam diri sendiri pun belum mampu?
Melawan korupsi tidak dimulai dari teriakan di jalanan, tetapi dari keberanian menata diri. Dari kemauan untuk belajar, bekerja, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup. Kritik sosial tanpa tindakan nyata hanya akan berakhir sebagai retorika kosong.
Subkultur punk sejatinya lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan kemapanan semu. Namun perlawanan itu mestinya diwujudkan melalui kesadaran, etos kerja, dan keberpihakan pada nilai-nilai positif—bukan dengan menjadikan jalanan sebagai alasan untuk menyerah pada masa depan.
Masyarakat berharap, narasi “jalanan adalah sekolah” dikembalikan pada makna aslinya: belajar dari kehidupan, tumbuh dari kerasnya realitas, dan menjadikan pengalaman sebagai pijakan untuk bangkit—bukan tenggelam dalam kemalasan yang justru melanggengkan masalah sosial itu sendiri.
Komentar